SELAMAT DATANG DAN TERIMA KASIH

Sembilan Tahun Mengabdi Layakkah Pendamping Desa Diangkat Sebagai PPPK?

Sembilan Tahun Mengabdi Layakkah Pendamping Desa Diangkat Sebagai PPPK?


Sembilan tahun.
Itu bukan waktu yang sebentar.
Sembilan tahun bukan sekadar hitungan kalender, tetapi perjalanan panjang dari satu desa ke desa lain. Dari jalan tanah berdebu sampai ruang musyawarah sederhana. Dari data yang harus disusun tengah malam hingga mendampingi warga saat pagi masih berkabut.

Di balik setiap keberhasilan pembangunan desa, ada mereka para pendamping desa  yang bekerja senyap, tanpa banyak sorotan.
Mereka yang kadang lebih tahu kondisi desa dibanding perangkatnya sendiri.
Mereka yang hadir bukan untuk mencari nama, tapi untuk memastikan pembangunan benar-benar menyentuh rakyat kecil.

Bukan Tentang Jabatan, Tapi Kepastian Hidup

Kini sudah sembilan tahun berlalu sejak program pendampingan dimulai.
Banyak di antara mereka yang memulai tugas di usia produktif, dan kini tak muda lagi.
Bagi yang sudah melewati hampir satu dekade pengabdian, mencari pekerjaan baru bukan perkara mudah.
Usia sudah tak lagi muda, tanggung jawab keluarga semakin besar, tapi status pekerjaan masih sama: kontrak yang tak menentu, gaji pas-pasan, dan masa depan yang menggantung.

Mereka tidak menuntut kekayaan.
Mereka hanya ingin kehidupan yang layak dan tenang — agar bisa bekerja tanpa rasa was-was.
Mereka hanya ingin dihargai setara dengan dedikasi yang telah diberikan.

Layakkah Mereka Diangkat Sebagai PPPK?
Jawabannya: sangat layak.
Karena mereka bukan pekerja baru yang harus dibimbing.
Mereka sudah paham karakter masyarakat desa, tahu celah kebijakan, mengerti betul bagaimana mendampingi tanpa menggurui.
Mereka sudah membuktikan bahwa pengabdian mereka bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan jiwa.

Dan jika pun pengangkatan PPPK belum memungkinkan, kontrak lima tahun dengan gaji setara UMR adalah bentuk penghargaan yang pantas.
Karena dengan itu, mereka bisa bekerja dengan hati yang tenang — bukan sekadar bertahan, tapi benar-benar mengabdi.

Pengabdian yang Tak Ternilai

Pendamping desa bukan hanya menjalankan tugas teknis.
Mereka adalah penjaga nilai-nilai pembangunan yang sejati: gotong royong, empati, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Mereka menyaksikan perubahan nyata di desa, tapi juga merasakan getirnya hidup dengan penghasilan terbatas.


Maka, ketika negara berbicara tentang pembangunan dari pinggiran, sudah sepantasnya negara juga melihat mereka yang menjaga pinggiran itu.
Karena pembangunan sejati bukan hanya soal infrastruktur dan angka-angka, tapi tentang menghargai manusia yang bekerja dengan hati.

Sembilan tahun sudah mereka mengabdi.
Tidak minta lebih, hanya minta dihargai setimpal.
Dan bila itu masih terlalu berat, setidaknya, berikan mereka kepastian — bukan janji.

Ditulis oleh: Busu
Terinspirasi dari suara hati para Pendamping Desa se-Indonesia
10 Oktober 2025

3 komentar: